BeritaDuniainternasional

Ketegangan Perdagangan Antara Cina dan AS: Menggali Tantangan dan Dampak Global

Presiden Cina Xi Jinping dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken bertemu di Beijing pada Senin, 19 Juni 2023. Pertemuan ini bertujuan untuk membahas hubungan antara kedua negara dan mencari solusi untuk mengatasi perselisihan yang telah berlangsung selama ini. Keduanya sepakat untuk menstabilkan persaingan sengit yang terjadi antara Cina dan AS, dan meskipun telah mencapai beberapa kesepakatan, belum ada terobosan besar yang dicapai.

baca juga: Heboh! Balita 3 Tahun di Samarinda Positif Narkoba setelah Minum Air dari Tetangga

Hubungan bilateral antara Cina dan AS telah kompleks sejak tahun 1949. Selama periode ini, kedua negara mengalami ketegangan dan kerja sama dalam berbagai isu, termasuk perdagangan, perubahan iklim, dan status Taiwan.

Sejarah Hubungan Cina dan AS

Sejarah hubungan Cina-AS dimulai pada Oktober 1949 ketika Mao Zedong mendirikan Republik Rakyat Tiongkok di Beijing setelah mengalahkan pemerintahan nasionalis Chiang Kai-shek. AS memberikan dukungan kepada pemerintahan nasionalis yang melarikan diri ke Taiwan. Pada Juni 1950, pecah perang Korea dengan Cina mendukung Korea Utara dan AS serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendukung Korea Selatan.

Ketegangan antara Cina dan AS semakin meningkat pada Agustus 1954 ketika AS mencabut blokade angkatan laut mereka di Taiwan. Pada tahun yang sama, Cina menanggapi dengan menembaki pulau-pulau yang dikuasai Taiwan. Washington kemudian menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan dengan Taipei. Sementara itu, pada Maret 1959, terjadi pemberontakan di Tibet yang mengakibatkan kecaman AS terhadap Beijing.

Hubungan antara Cina dan AS mengalami perubahan pada April 1971 ketika PBB mengakui Cina dan memberinya kursi permanen di Dewan Keamanan. Pada Februari 1972, Presiden AS Richard Nixon mengunjungi Cina untuk menandatangani Komunike Shanghai, yang mengatur hubungan bilateral dan memungkinkan kedua negara membahas isu-isu yang rumit, termasuk Taiwan.

Pada tahun-tahun berikutnya, hubungan antara Cina dan AS mengalami pasang surut. Pada 1979, Presiden AS Jimmy Carter memberikan pengakuan diplomatik penuh kepada Cina dan memutuskan hubungan normal dengan Taiwan. Namun, ketegangan tetap ada, terutama terkait isu perdagangan dan hak asasi manusia.

Pada Oktober 2020, Cina bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) setelah Undang-Undang Hubungan AS-Cina membuka jalan bagi keanggotaannya. Perdagangan antara kedua negara tersebut terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Ketegangan Perdagangan Teknologi

Tahun-tahun terakhir juga disertai dengan ketegangan antara Cina dan AS, terutama dalam hal perdagangan, teknologi, dan isu-isu politik. Pada Maret 2018, keduanya saling memberlakukan tarif impor, yang memicu ketegangan perdagangan yang serius antara Cina dan AS. Kedua negara saling menaikkan tarif impor terhadap berbagai produk, termasuk baja, aluminium, teknologi, dan produk pertanian.

Perselisihan perdagangan ini menjadi salah satu sumber ketegangan utama antara Cina dan AS. Kedua belah pihak saling mengkritik kebijakan perdagangan satu sama lain dan berusaha melindungi kepentingan nasional mereka sendiri. Negosiasi dan pembicaraan perdagangan yang dilakukan secara teratur belum berhasil mencapai kesepakatan yang signifikan, dan tarif impor yang saling diberlakukan tetap berlaku.

Selain perdagangan, isu-isu lain yang mempengaruhi hubungan antara Cina dan AS termasuk keamanan regional, perubahan iklim, hak asasi manusia, dan status Taiwan. Cina menganggap Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya dan menolak pengakuan internasional terhadap negara tersebut. AS, di sisi lain, telah memberikan dukungan kuat kepada Taiwan dalam hal keamanan dan politik.

Kedua negara juga bersaing dalam pengembangan teknologi dan inovasi. Cina telah mencapai kemajuan pesat dalam bidang teknologi, khususnya dalam hal kecerdasan buatan, teknologi 5G, dan kecerdasan robotik. Namun, AS telah menerapkan langkah-langkah untuk melindungi kepentingan nasionalnya dalam hal keamanan teknologi dan melarang beberapa perusahaan Cina, seperti Huawei, berpartisipasi dalam pembangunan jaringan 5G di AS.

Kesimpulan

Pada pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Menteri Luar Negeri Antony Blinken pada Juni 2023, kedua pihak berusaha mencari solusi untuk mengatasi perselisihan yang telah berlangsung. Meskipun telah mencapai beberapa kesepakatan kecil, belum ada terobosan besar yang dicapai. Stabilisasi persaingan sengit antara Cina dan AS tetap menjadi tantangan yang kompleks.

Hubungan antara Cina dan AS memiliki dampak global yang signifikan, mengingat kedua negara tersebut adalah dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Perkembangan dalam hubungan bilateral mereka akan terus dipantau oleh komunitas internasional, karena akan berdampak pada stabilitas politik dan ekonomi global.

Related posts

Mengenal Istilah Justice Collaborator, Peranan dan Syarat Memperoleh Status Ini

rumi

Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto Rencanakan Pertemuan dengan Ketua Majelis Tinggi Demokrat SBY

Faqih Jafar

Medsos Dihebohkan dengan Pemuda Nikahi 2 Gadis Bersaudara di Lampung, Apakah Boleh?

rumi